Sunday, November 11, 2012

Weekend Quote #1

Since I'm currently reading Romeo and Juliet for Let's Read Plays, I think it is only natural to quote a line or two from this play.

For this 1st Weekend Quote, I pick:

"What's in a name? that which we call rose, by any other name would smell as sweet" ~ JULIET, Act II, Scene II

What makes me so into this quote is that right at the moment I read it, I remembered another quote by Anne Shirley (Anne of Green Gables);

"I read in a book once that a rose by any other name would smell as sweet, but I've never been able to believe it. I don't believe a rose would be as nice if it was called a thistle or a skunk cabbage." ~ ANNE SHIRLEY, Anne of Green Gables

I Iike the Indonesian translation (which I actually have posted here);

"Aku pernah membaca bahwa disebut apapun setangkai mawar, aromanya akan sama harumnya, tapi aku tidak pernah bisa mempercayainya. Aku tidak percaya bahwa setangkai mawar akan sama indahnya jika disebut bunga tahi ayam atau kol sigung."

And there I had a good laugh imagining Juliet and Anne having argument about name and rose >.<


Just-a-note: I know it's a bit odd that Juliet's line made me remember Anne's line, while for some others it might be the opposite. But I well, read Anne's first before Juliet's, so.. here we are :p


Weekend Quote is hosted by Half-Filled Attic. Feel free to join. You can:

  • Give the context of the quote
  • Give your opinion whether you agree or disagree with it
  • Share your experience related to the quote
  • Share similar quotes you remember
  • Or anything else. Just have fun with the quote.

Wednesday, November 7, 2012

Wishful Wednesday #1


Perdana ikutan Wishful Wednesday!

Buku yang lagi diidam-idamkan sampai ileran parah adalah ini;


The Teleportation Accident
Ned Beauman

Buku ini masuk dalam jajaran Longlist Man Booker Prize 2012. Kenapa ngiler sama buku ini? Covernya itu loh napsuin banget! :p

Blurb-nya heboh:
Longlisted for the 2012 Man Booker Prize.
HISTORY HAPPENED WHILE YOU WERE HUNGOVER
When you haven't had sex in a long time, it feels like the worst thing that could ever happen to anyone. If you're living in Germany in the 1930s, it probably isn't. But that's no consolation to Egon Loeser, whose carnal misfortunes will push him from the experimental theatres of Berlin to the absinthe bars of Paris to the physics laboratories of Los Angeles, trying all the while to solve two mysteries: whether it was really a deal with Satan that claimed the life of his hero, the great Renaissance stage designer Adriano Lavicini; and why a handsome, clever, charming, modest guy like him can't, just once in a while, get himself laid. From the author of the acclaimed Boxer, Beetle comes a historical novel that doesn't know what year it is; a noir novel that turns all the lights on; a romance novel that arrives drunk to dinner; a science fiction novel that can't remember what 'isotope' means; a stunningly inventive, exceptionally funny, dangerously unsteady and (largely) coherent novel about sex, violence, space, time, and how the best way to deal with history is to ignore it. LET'S HOPE THE PARTY WAS WORTH IT

Konon buku ini agak gila... Jadi, gila + cover menggoda = meratapi dompet. Iya, gimana ga meratapi dompet lha wong harganya mihil gituh...
*
Yuk share Wishful Wednesday-mu:
1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Friday, November 2, 2012

Warga Baru di Bulan Oktober

Waktunya mendata penghuni baru timbunan di bulan Oktober kemarin.

No.1-7 dibeli di akhir September, tapi karena laporan belanja September udah dibuat di posting yang ini, jadi mereka ngisi daftar hadir di bulan Oktober.

* Yang ini... salahin Periplus Setiabudi yang sale + tambahan diskon 10% pas waktu saya jalan-jalan ke Bandung (dalam usaha cari kambing hitam). Buku-buku ini murah bener jadinya.


1. State of Wonder, Ann Panchett
2. Theodore Boone: The Abduction, John Grisham
3. The Space Between Us, Thrity Umrigar
4. Reckless, Cornelia Funke
5. Vampire Academy The Ultimate Guide, Michelle Rowen with Richelle Mead (hepi banget waktu nemu buku ini dengan harga murce *gegirangan)
6. Confessions of Love, Uno Chiyo

* Comot di Bandung Book Fair, untuk event Let's Read Plays. Jarang-jarang niih dari book fair cuma bawa pulang sebiji buku tipis (bangga atas kemampuan menahan dirinya, tapi lalu lirik ke No.1-6 di atas, ga jadi bangga >_<)


7. Oidipus, Sophokles

* Tak bisa menahan diri, beli di Bookdepository. Awalnya ga suka covernya, tapi pas dateng ternyata keren juga body-nya (ish ish main fisik) :D


8. The Casual Vacancy, J.K. Rowling

* Jalan-jalan dan melangkahkan kaki ke Gracia - sebuah toko buku kecil yang letaknya di sisi kiri Naga Swalayan Jakarta Timur. Meneliti raknya dan menemukan ini dalam kondisi baru.


9. Oteba, Marga T.

* Ini dibeli untuk baca bareng Nobel Sastra @BBI_2011, udah diripiu => di sini;


10. Snow Country, Yasunari Kawabata

* Pembelian acak, tanpa niat tertentu, sebagian karena covernya cakep >_<


11. Three Weddings and Jane Austen, Prima Santika
12. Cinta Tanpa Warna, Kartika Sari
13. Test Pack, Ninit Yunita
14. Blue Romance, Sheva

* Yang terakhir, ya gitudeh lagi-lagi saya ke Bandung dan dengan sengajanya melipir ke Periplus Setiabudi... Ini yang satu guede yang satu lagi kuecil, yang gede harganya lebih murah daripada yang kecil.


15. Love, Inc., Yvonne Collins & Sandy Rideout (ciyuus miapaah saya beli buku ini :p btw, harganya bukan yang di sticker itu ya *emang keliatan? :p)
16. Fahrenheit 451, Ray Bradbury (yang ini ga lagi sale *sigh*)

Whoa! 16 buku! *sibuk umpel-umpelin ke timbunan

Thursday, November 1, 2012

Let's Read Plays: Starts!


Finally, November has come and here we are in Let's Read Plays event!


Let's Read Plays is a yearlong event hosted by Fanda and I, where participants will read classic plays throughout the year, from this November to October 2013.

As I have said in this post, plays have a special place in my heart. So really, I'm soo excited!

For more details, please go to the SIGN UP POST and MASTER POST in Fanda's blog.

Meanwhile, here's my list of 12 plays for the event:
  1. Nov '12 Shakespeare's Tragedy: Romeo and Juliet
  2. Dec '12 Shakespeare's Comedy: The Merchant of Venice
  3. Jan '13 freebie: Othello
  4. Feb '13 Shakespeare's History: Richard III
  5. Mar '13 Greek: Oidipus
  6. Apr '13 Shakespeare's Comedy: The Taming of the Shrew
  7. May '13 Shakespeare's Tragedy: King Lear
  8. Jun '13 Oscar Wilde: An Ideal Husband
  9. Jul '13 Other author: Death of a Salesman (Arthur Miller)
  10. Aug '13 Shakespeare's Comedy: The Tempest
  11. Sep '13 freebie: Much Ado About Nothing
  12. Oct '13 Shakespeare's Tragedy: Macbeth

Now, since plays are often short reads, I think I'm going to cram some more titles into the list. Maybe re-reading some plays I've read, but that's optional.

It'll be fun! If you join in before November 15, you'll be eligible to participate in giveaways. Yes, with "s", meaning; there will be more than one giveaway in this event ;)

So, are you up for this challenge?
This way, please...
==> SIGN UP POST
==> MASTER POST
==> MONTHLY MEME

Komako (Snow Country) | Character Thursday #1

Jadi saya pecah telur, ikutan posting Character Thursday-nya Fanda!


Sebagai posting perdana ini saya mengambil salah satu karakter dari buku yang baru selesai saya baca, Snow Country karya Yasunari Kawabata, yaitu Komako.

Komako adalah geisha di sebuah penginapan pemandian air panas yang ditemui Shimamura - sang tokoh utama - setiap kali pria itu pergi ke sana. Digambarkan memiliki pipi sewarna angsa yang baru dibului, kulit yang mudah memerah apabila sedang malu atau mabuk.

Awalnya saya agak kesulitan mengikuti dialog Shimamura dengan Komako. Karena dialog ala Jepang (yang biasa kita lihat di buku, manga atau drama) umumnya memang sunyi, singkat, melompat, terpotong, dan seperti tidak lengkap, butuh waktu hingga saya memahami karakter utama wanita di Snow Country ini. Ditambah lagi, beberapa kali dialog dilakukan saat Komako sedang mabuk.

"Jangan, jangan. Bukankah kau bilang kau hanya ingin berteman?" (hal. 38)
"Saya tidak akan menyesali apapun. Tetapi, saya bukan perempuan rendahan. Bukankah Anda sendiri yang mengatakan hubungan seperti itu tak akan lama?" (hal. 38)
Ia meracau nyaris tak sadar, dan ia menggigit-gigit ujung kimononya seolah untuk menolak kebahagiaan. (hal. 38)

"Aku mau pulang"... "Aku tidak akan pulang. Aku akan duduk di sini sampai pagi."... "Aku mau pulang" (hal. 82)

"Aku tak mau lagi mengantamu. Kau tak tahu bagaimana rasanya mengantar kepulanganmu." (hal. 101)
"Tak ada bedanya bekerja di manapun. Tak perlu risau soal itu." (hal. 140)
"Aku benci padamu. Benci sekali padamu."... "Aku sedih sekali." (hal. 159)

Dari kalimat-kalimat itu, tergambar rasa putus asa dan frustrasi Komako pada keadaannya; geisha gunung yang terjerat hutang, mencintai seorang pria yang tak mungkin dimilikinya.

Komako membenci sekaligus mencintai Shimamura, kadang bersikap kasar pada pria itu kadang lembut, ingin pria itu pergi dari hidupnya tapi ia juga tahu ia tak sanggup berpisah dengannya, selalu menantikan kehadirannya. Terombang-ambing antara kerelaan melepas, dan posesif ingin memiliki.

Matsuei, Sumber: di sini
Sempat tertangkap pula, rasa cemburunya pada Yoko. Mungkin meski Shimamura tak pernah mengucapkannya, Komako bisa melihat pria itu tertarik pada Yoko.

Hal lain yang menarik perhatian saya, Komako suka membuat catatan untuk setiap buku yang dia baca. Wah, bisa jadi blogger buku juga dia yaa :D Saya jadi penasaran, buku-buku dan karakter-karakter bagaimana yang menarik bagi seorang Komako.

Konon Komako diciptakan Kawabata dengan inspirasi seorang onsen geisha bernama Matsuei. Geisha dengan nama asli Kodaka ini kabarnya usianya mencapai 99 tahun. Karena terkenalnya kisah yang berjudul asli Yukiguni ini, di Yuzawa (setting Snow Country) diadakan kompetisi tahunan Miss Komako. Sayangnya ketika saya menelusuri sumber, hanya ada Miss Komako 2007. Yang penasaran sama Miss Komako, sila melipir => ke sini.

Catatan iseng nyempil: sejujurnya saya belum pernah melihat angsa yang baru dibului, tapi dalam ingatan samar dari film kartun saya bayangkan warnanya pink, bener ga? :D

Wednesday, October 31, 2012

Gairah Hening Di Daerah Salju

"Keluar dari terowongan panjang,
kereta api memasuki daerah salju"

Maka, di daerah salju itulah kisah bermula.

Shimamura, seorang pria tanpa pekerjaan tetap yang menghidupi diri beserta istri dan anak-anaknya dengan uang warisan, melampiaskan kegelisahannya dengan banyak pergi ke pegunungan. Ketika suatu saat ia tiba di sebuah penginapan air panas, di sana ia bertemu dengan Komako, seorang geisha yang pipinya bersemu bak angsa dibului. Segera, terbentuklah ikatan antara Shimamura dan Komako.

Kini, kembali ke daerah salju yang sama, di perjalanan perhatian Shimamura terbentur pada seorang gadis yang bersuara indah. Yoko, demikian nama gadis itu, rupanya tinggal bersama Komako, bersama mereka merawat seorang pria sekarat bernama Yukio. Meski telah menjalin hubungan dengan Komako, pikiran Shimamura sering diselipi suara dan wajah Yoko.

Snow Country (Yukiguni) menarasikan kisah seorang pria yang merasakan kekosongan dalam hatinya, mencoba menemukan apa yang hilang.

Kisah ini juga menyuarakan keputusasaan seorang geisha yang terisolir dari kehidupan kota, yang mencintai seorang pria tapi tahu tak akan pernah bisa memilikinya. Komako digambarkan sebagai geisha yang menarik dan ceria. Rasa frustrasinya sangat terasa pada kalimat-kalimatnya; baik saat mabuk maupun tidak.

"Tetapi, rasanya berat bagiku. Pulanglah ke Tokyo. Rasanya berat bagiku."
"Pulanglah ke Tokyo sekarang."
namun ketika Shimamura mengatakan ia hendak pulang ke Tokyo esok harinya, Komako berkata;
"Oh! Kenapa pulang?"

Ketidakselarasan antara apa yang dirasa dan dilakukan dengan apa yang diucapkan ini sering terjadi, memperlihatkan betapa frustrasinya Komako dengan keadaan.

Matsuei, seorang onsen geisha (geisha di pemandian air panas),
yang konon merupakan inspirasi untuk karakter Komako
Sumber: di sini

Di sisi lain, kegamangan Shimamura pun tampak di sana-sini.
Sebuah tarian yang tak pernah ia saksikan adalah sama belaka dengan kesenian yang tak pernah ada, sebuah lamunan di belakang meja. Ia menyebut pekerjaannya sebagai riset, tetapi sesungguhnya hanyal khayalan yang bergerak semaunya. Bukannya menikmati balet yang ditarikan orang, ia lebih suka menikmati tarian khayal dari imajinasinya sendiri.
Hal tersebut serupa dengan jatuh cinta pada seseorang yang tak pernah ia temui. (hal.24-25)

Shimamura membayangkan dirinya sedang menumpang kendaraan khayal, sedang diangkut ke tempat tak dikenal, dicerabut dari kenyataan. Derak monoton roda kereta berubah menjadi suara perempuan. (hal. 91)

Semakin kuat ia bertanya-tanya, apa yang kosong dalam dirinya, apa yang membuat dirinya seperti tak lengkap. Begitulah, ia terpana oleh kebekuannya sendiri. (hal. 166)

Di daerah salju itu, Shimamura seperti bersembunyi dari kenyataan hidupnya sebagai pria berkeluarga, meliarkan imaji bersama Komako. Kehadiran Yoko semakin melengkapi fantasinya.

Hidup di dunia "tak nyata", merasa dirinya sebagai pria yang tak berguna karena tak mampu memberikan apapun pada Komako yang sudah memberikan segalanya. Tak berdaya hingga akhir.

Salju di Yuzawa, Perfektur Niigata, yang merupakan setting dari Yukiguni
Sumber: di sini
Kain Chijimi, yang dikelantang di atas salju.
Kain ini, karena tahan lama, oleh Kawabata diperbandingkan dengan
lama kemesraan antara 2 insan.
Sumber: di sini
Yukiguni, pernah difilmkan pada 1957, dan masuk ke dalam Festival Film Cannes 1958

Sebagaimana umumnya literatur Jepang, dialog-dialog dalam Snow Country cenderung hening dan terpenggal (istilah saya untuk jenis percakapan ala Jepang semacam ini :p). Untuk memahami percakapan, kita harus terlebih dahulu memahami karakter serta situasinya, dan mengisi sendiri penggalan-penggalan yang tak terucap pada dialog.

Penerjemah berhasil mengangkat sisi puitis dari novel ini, dengan menggunakan pilihan-pilihan kata yang tidak biasa. Cover buku juga mampu menguarkan aroma dingin dari Snow Country.

Saya mengeluarkan 4 cangkir kopi sebagai kompensasi atas meditasi yang dingin dan menusuk, sambil masih bertanya-tanya; apakah saya juga sedang melarikan diri seperti Shimamura dan hidup dalam fantasi?
Sebuah karya yang dikerjakan dengan cinta yang memancar dari kesungguhan hati - bukankah ia akan selalu sanggup menggerakkan hati, kapan pun dan di manapun? (hal. 169)
Dan seperti itulah Snow Country.



Judul: Snow Country/Daerah Salju
Judul Asli: Yukiguni
Penulis: Yasunari Kawabata
Penerjemah: A.S. Laksana
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 979-780-368-1
Ukuran: 13x19 cm
Tebal: vi + 190 halaman
Cover: Softcover








Tentang penulis:

Yasunari Kawabata (14 Juni 1899 - 16 April 1972), adalah penulis novel dan cerita pendek berkebangsaan Jepang. Kawabata merupakan salah satu pendiri Bungei Jidai, yang merupakan media bagi literatur modern Jepang. Kepiawaiannya dalam menulis narasi membawanya meraih penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1968;
"for his narrative mastery, which with great sensibility expresses the essence of the Japanese mind"

Setelah debutnya Izu Dancer/Izu no Odoriko (1927), nama Kawabata kokoh dalam jajaran penulis di Jepang dengan hadirnya Snow Country/Yukiguni, yang pertama kali diserialisasikan pada 1935-1937.

Karya-karya Kawabata lainnya juga banyak diapresiasi oleh penikmat literatur, antara lain; The Master of Go/Meijin (1951-1954), Thousand Cranes/Senbazuru (1949-1952), The Lake/Miizumi (1954), The Old Capital/Koto (1962).


Monday, October 22, 2012

Romantisme Abu-abu Tuan Grey


Ini dia serial "seru" yang saya temukan tahun ini!

Berawal dari linimasa yang tiba-tiba menyebut-nyebut buku ini sebagai best seller, saya pun dilanda penasaran luar biasa. Dilihat dari sudut manapun The Fifty Shades Trilogy sama sekali bukan genre saya. Kalau saya tipe pembaca yang kaku, sudah pasti opsi membaca buku bergenre adult romance/erotica ini segera ditendang jauh-jauh. Tapi rasa penasaran memang berbahaya, dia memakanmu dan mengunyahmu dengan nikmat. Maka, sayapun mencari ebook-nya.

Dan ketika saya baca buku pertama, huaah buku ini memang benar-benar panas! Saya baru tahu ada genre buku seperti ini, yang menggambarkan aktivitas ranjang dengan sangat detil.

Fifty Shades of Grey (Buku #1) 
Skor Ngidam Buku:

Bercerita tentang Anastasia (Ana) Steele, seorang mahasiswi sastra yang suatu hari menggantikan sahabatnya untuk mewawancarai seorang pengusaha muda dan sukses Christian Grey. Ana mau tidak mau, seperti wanita lainnya, terpesona pada Christian. Lalu tiba-tiba saja, Christian mendekatinya dan menawarinya kontrak untuk menjadi Submissive-nya.

Ana setuju menerima masa percobaan, di mana ia bisa mempelajari gaya hidup BDSM ala Christian dan melihat apakah ia mau melanjutkannya. Pelajaran cinta di playroom pun dimulai.

Di buku pertama saya hanya sekedar merasakan aliran panas karena adegan erotisnya. Juga karena konsep BDSM-nya. Fifty Shades of Grey membuat saya kesal setengah mati pada Ana karena banyak hal; karena ketidak hati-hatiannya terlibat dengan pria "gelap" seperti Christian, karena jalan pikiran anehnya yang entah kenapa justru menganggap dirinyalah yang tak layak untuk Christian dan bukan sebaliknya, dan terutama sekali, karena kebiasaannya mengucapkan kata "holy cow, holy f*ck, holy crap, crap, crap" rasanya mengganggu!

Ada jeda 8 buku sebelum kemudian saya tergerak untuk membaca buku ke-2.

Fifty Shades Darker (Buku #2)
Skor Ngidam Buku:

Ana yang memutuskan untuk meninggalkan Christian setelah masa percobaan menjadi Submissive-nya berakhir berantakan, rupanya menjadi shock therapy bagi Christian. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan kontrol. Christian yang selalu menjadikan kontrol sebagai sumber ketenangannya, satu-satunya cara yang ia ketahui untuk menutupi derita dan ketidaknyamannya - termasuk dalam berhubungan dengan lawan jenis - dipaksa mencari cara lain.

Untuk bersama Ana, cara lama itu - dengan menjadikannya Sub - tidak berhasil. Christian harus mulai memikirkan ulang gaya hidupnya selama ini, menemukan pendekatan baru dengan wanita.

Fifty Shades Darker inilah yang kemudian membuat saya bahkan jadi lebih sinting daripada Ana dan jatuh total dalam pesona Christian Grey. Seks masih menjadi menu utama, tentu saja, tapi secara keseluruhan kisahnya berkembang. Dan terutama, pribadi Christian lebih terekspos, tentang masa lalunya yang menjadikannya seperti dia kini.

***SPOILER ALERT***
Puncaknya adalah ketika dalam satu bab, Christian digambarkan sebagai seorang Dominant, dan kemudian mendadak muncul kepribadian Submissive-nya. Saya pikir, ini brilian!
*** SPOILER ENDS HERE ***

Jadi resmilah saya memberi gelar Christian Grey sebagai salah satu karakter buku terseksi yang pernah saya temui \^O^/

Mr. Grey adalah tipe karakter yang sangat mudah mempesona perempuan; kaya, wajah ultra tampan, fisik yang mempesona... ditambah 2 unsur penting; dark and broken. Ah, wanita mana yang tidak tergoda untuk menceburkan diri dalam lautan asmara bersama dewa tampan yang pernah teraniaya dan butuh kasih sayang? Meski terdengar klise, dan tahu ini klise, tapi tak ayal saya tetap bertekuk lutut di hadapan Mr.Fifty.

Fifty Shades Darker diisi dengan emosi-emosi yang menjadi titik balik Christian. Sejalan dengan topeng pada cover-nya, selapis demi selapis kisah hidup dan perasaannya terbuka. Dan harapan baginya untuk menyembuhkan luka dan berubah, muncul dalam bentuk seorang Ana.

Fifty Shades Freed (Buku #3)
Skor Ngidam Buku:

"By popular demand, I'm going to restrain you" ~ Grey

Memasuki Fifty Shades Freed, saya hampir tidak bisa membaca. Saya... tidak sanggup kalau harus menamatkan buku ini, karena... itu artinya kebersamaan dengan Mr.Grey akan segera berakhir! >,<

Kehidupan Christian dan Ana terganggu oleh serangkaian teror yang dilakukan oleh mantan bos Ana yang sakit hati karena dipecat Christian. Lalu ketika Ana, yang lupa suntik KB mendadak dapat dua garis, Christian lagi-lagi harus melompat jauh dari zona nyamannya.

Freed menurut saya yang paling mewakili kata romantis di antara ketiga buku ini. Ending yang super sweet, mega romantic... Demi apa saya mewek karena pisah sama kisah Mr. Grey!

"I need control, Ana. Like I need you. It's the only way I can function. I can't let go of it. I've tried... And yet, with you..." ~ Grey

Lalu, saya pun merasa perlu mengoleksi dan segera pre-order trilogi Fifty Shades boxset dari Bookdepository. Nah!

My Fifty Shades... >_<

Edisi paperback keluaran Arrow Books memuat ekstra sekelumit kisah masa kecil Christian; Natal pertamanya bersama keluarga barunya. Serta pertemuan pertama Christian dengan Ana, melalui point of view Christian. Ekstra ini menarik. Kisah masa kecil Christian bahkan secara mengejutkan ditulis dengan cukup menyentuh.

*

Overall sebagai trilogi erotika, variasi adegan intimnya cukup menyegarkan :D Well, kecuali adegan saat Ana haid itu agak sedikit terlalu.. euw! Adegan dalam konteks BDSM hanya ada di buku pertama, sisanya lebih merupakan role-play karena Ana bukanlah Sub Christian.

The Fifty Shades Trilogy jelas bukan kisah dengan jalinan kata yang indah, tapi secara keseluruhan tidak mengurangi kadar romantismenya. Kalimat-kalimatnya sederhana, tapi tak urung buku ini mampu membuat saya terus membalikkan halaman demi halaman hingga selesai. Dia vulgar sevulgar-vulgarnya, tapi entah kenapa lama-kelamaan membuat saya makin menyukai karakter Christian Grey. Meski erotisme hampir tak pernah absen di sana - sesuai genre-nya - tapi Fifty Shades juga berhasil membangun kisah yang mengikat dan karakter yang memikat. Saya yakin ada banyak tokoh buku adult romance di luar sana, tapi Christian Grey akan selalu jadi salah satu yang paling dibicarakan - oleh saya, setidaknya :p

Membaca ketiga novel ini bagai memberi paradoks dalam penilaian saya; di satu sisi saya tahu mereka takkan melewati rating 3 cangkir kopi, tapi di sisi lain saya amat sangat menikmatinya.

Singkatnya, Trilogi Fifty Shades itu seperti mie instan, minim gizi tapi gurih, sedap saat panas dan disantap malam-malam. *kipas-kipas

Ah sial, inilah saya, yang biasanya gampang bosan dengan romantisme menye-menye, menulis panjang lebar dengan penuh cinta tentang romansa abu-abu Mr. Fifty...

Laters, baby!

***

The Fifty Shades Trilogy Boxset
Penulis: EL. James
Penerbit: Arrow Books
Format: Paperback
ISBN 13: 9780099580577
ISBN 10: 0099580578
terdiri dari:

Fifty Shades of Grey
Fifty Shades Darker
Fifty Shades Freed