Wednesday, October 31, 2012

Gairah Hening Di Daerah Salju

"Keluar dari terowongan panjang,
kereta api memasuki daerah salju"

Maka, di daerah salju itulah kisah bermula.

Shimamura, seorang pria tanpa pekerjaan tetap yang menghidupi diri beserta istri dan anak-anaknya dengan uang warisan, melampiaskan kegelisahannya dengan banyak pergi ke pegunungan. Ketika suatu saat ia tiba di sebuah penginapan air panas, di sana ia bertemu dengan Komako, seorang geisha yang pipinya bersemu bak angsa dibului. Segera, terbentuklah ikatan antara Shimamura dan Komako.

Kini, kembali ke daerah salju yang sama, di perjalanan perhatian Shimamura terbentur pada seorang gadis yang bersuara indah. Yoko, demikian nama gadis itu, rupanya tinggal bersama Komako, bersama mereka merawat seorang pria sekarat bernama Yukio. Meski telah menjalin hubungan dengan Komako, pikiran Shimamura sering diselipi suara dan wajah Yoko.

Snow Country (Yukiguni) menarasikan kisah seorang pria yang merasakan kekosongan dalam hatinya, mencoba menemukan apa yang hilang.

Kisah ini juga menyuarakan keputusasaan seorang geisha yang terisolir dari kehidupan kota, yang mencintai seorang pria tapi tahu tak akan pernah bisa memilikinya. Komako digambarkan sebagai geisha yang menarik dan ceria. Rasa frustrasinya sangat terasa pada kalimat-kalimatnya; baik saat mabuk maupun tidak.

"Tetapi, rasanya berat bagiku. Pulanglah ke Tokyo. Rasanya berat bagiku."
"Pulanglah ke Tokyo sekarang."
namun ketika Shimamura mengatakan ia hendak pulang ke Tokyo esok harinya, Komako berkata;
"Oh! Kenapa pulang?"

Ketidakselarasan antara apa yang dirasa dan dilakukan dengan apa yang diucapkan ini sering terjadi, memperlihatkan betapa frustrasinya Komako dengan keadaan.

Matsuei, seorang onsen geisha (geisha di pemandian air panas),
yang konon merupakan inspirasi untuk karakter Komako
Sumber: di sini

Di sisi lain, kegamangan Shimamura pun tampak di sana-sini.
Sebuah tarian yang tak pernah ia saksikan adalah sama belaka dengan kesenian yang tak pernah ada, sebuah lamunan di belakang meja. Ia menyebut pekerjaannya sebagai riset, tetapi sesungguhnya hanyal khayalan yang bergerak semaunya. Bukannya menikmati balet yang ditarikan orang, ia lebih suka menikmati tarian khayal dari imajinasinya sendiri.
Hal tersebut serupa dengan jatuh cinta pada seseorang yang tak pernah ia temui. (hal.24-25)

Shimamura membayangkan dirinya sedang menumpang kendaraan khayal, sedang diangkut ke tempat tak dikenal, dicerabut dari kenyataan. Derak monoton roda kereta berubah menjadi suara perempuan. (hal. 91)

Semakin kuat ia bertanya-tanya, apa yang kosong dalam dirinya, apa yang membuat dirinya seperti tak lengkap. Begitulah, ia terpana oleh kebekuannya sendiri. (hal. 166)

Di daerah salju itu, Shimamura seperti bersembunyi dari kenyataan hidupnya sebagai pria berkeluarga, meliarkan imaji bersama Komako. Kehadiran Yoko semakin melengkapi fantasinya.

Hidup di dunia "tak nyata", merasa dirinya sebagai pria yang tak berguna karena tak mampu memberikan apapun pada Komako yang sudah memberikan segalanya. Tak berdaya hingga akhir.

Salju di Yuzawa, Perfektur Niigata, yang merupakan setting dari Yukiguni
Sumber: di sini
Kain Chijimi, yang dikelantang di atas salju.
Kain ini, karena tahan lama, oleh Kawabata diperbandingkan dengan
lama kemesraan antara 2 insan.
Sumber: di sini
Yukiguni, pernah difilmkan pada 1957, dan masuk ke dalam Festival Film Cannes 1958

Sebagaimana umumnya literatur Jepang, dialog-dialog dalam Snow Country cenderung hening dan terpenggal (istilah saya untuk jenis percakapan ala Jepang semacam ini :p). Untuk memahami percakapan, kita harus terlebih dahulu memahami karakter serta situasinya, dan mengisi sendiri penggalan-penggalan yang tak terucap pada dialog.

Penerjemah berhasil mengangkat sisi puitis dari novel ini, dengan menggunakan pilihan-pilihan kata yang tidak biasa. Cover buku juga mampu menguarkan aroma dingin dari Snow Country.

Saya mengeluarkan 4 cangkir kopi sebagai kompensasi atas meditasi yang dingin dan menusuk, sambil masih bertanya-tanya; apakah saya juga sedang melarikan diri seperti Shimamura dan hidup dalam fantasi?
Sebuah karya yang dikerjakan dengan cinta yang memancar dari kesungguhan hati - bukankah ia akan selalu sanggup menggerakkan hati, kapan pun dan di manapun? (hal. 169)
Dan seperti itulah Snow Country.



Judul: Snow Country/Daerah Salju
Judul Asli: Yukiguni
Penulis: Yasunari Kawabata
Penerjemah: A.S. Laksana
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 979-780-368-1
Ukuran: 13x19 cm
Tebal: vi + 190 halaman
Cover: Softcover








Tentang penulis:

Yasunari Kawabata (14 Juni 1899 - 16 April 1972), adalah penulis novel dan cerita pendek berkebangsaan Jepang. Kawabata merupakan salah satu pendiri Bungei Jidai, yang merupakan media bagi literatur modern Jepang. Kepiawaiannya dalam menulis narasi membawanya meraih penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1968;
"for his narrative mastery, which with great sensibility expresses the essence of the Japanese mind"

Setelah debutnya Izu Dancer/Izu no Odoriko (1927), nama Kawabata kokoh dalam jajaran penulis di Jepang dengan hadirnya Snow Country/Yukiguni, yang pertama kali diserialisasikan pada 1935-1937.

Karya-karya Kawabata lainnya juga banyak diapresiasi oleh penikmat literatur, antara lain; The Master of Go/Meijin (1951-1954), Thousand Cranes/Senbazuru (1949-1952), The Lake/Miizumi (1954), The Old Capital/Koto (1962).


Monday, October 22, 2012

Romantisme Abu-abu Tuan Grey


Ini dia serial "seru" yang saya temukan tahun ini!

Berawal dari linimasa yang tiba-tiba menyebut-nyebut buku ini sebagai best seller, saya pun dilanda penasaran luar biasa. Dilihat dari sudut manapun The Fifty Shades Trilogy sama sekali bukan genre saya. Kalau saya tipe pembaca yang kaku, sudah pasti opsi membaca buku bergenre adult romance/erotica ini segera ditendang jauh-jauh. Tapi rasa penasaran memang berbahaya, dia memakanmu dan mengunyahmu dengan nikmat. Maka, sayapun mencari ebook-nya.

Dan ketika saya baca buku pertama, huaah buku ini memang benar-benar panas! Saya baru tahu ada genre buku seperti ini, yang menggambarkan aktivitas ranjang dengan sangat detil.

Fifty Shades of Grey (Buku #1) 
Skor Ngidam Buku:

Bercerita tentang Anastasia (Ana) Steele, seorang mahasiswi sastra yang suatu hari menggantikan sahabatnya untuk mewawancarai seorang pengusaha muda dan sukses Christian Grey. Ana mau tidak mau, seperti wanita lainnya, terpesona pada Christian. Lalu tiba-tiba saja, Christian mendekatinya dan menawarinya kontrak untuk menjadi Submissive-nya.

Ana setuju menerima masa percobaan, di mana ia bisa mempelajari gaya hidup BDSM ala Christian dan melihat apakah ia mau melanjutkannya. Pelajaran cinta di playroom pun dimulai.

Di buku pertama saya hanya sekedar merasakan aliran panas karena adegan erotisnya. Juga karena konsep BDSM-nya. Fifty Shades of Grey membuat saya kesal setengah mati pada Ana karena banyak hal; karena ketidak hati-hatiannya terlibat dengan pria "gelap" seperti Christian, karena jalan pikiran anehnya yang entah kenapa justru menganggap dirinyalah yang tak layak untuk Christian dan bukan sebaliknya, dan terutama sekali, karena kebiasaannya mengucapkan kata "holy cow, holy f*ck, holy crap, crap, crap" rasanya mengganggu!

Ada jeda 8 buku sebelum kemudian saya tergerak untuk membaca buku ke-2.

Fifty Shades Darker (Buku #2)
Skor Ngidam Buku:

Ana yang memutuskan untuk meninggalkan Christian setelah masa percobaan menjadi Submissive-nya berakhir berantakan, rupanya menjadi shock therapy bagi Christian. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan kontrol. Christian yang selalu menjadikan kontrol sebagai sumber ketenangannya, satu-satunya cara yang ia ketahui untuk menutupi derita dan ketidaknyamannya - termasuk dalam berhubungan dengan lawan jenis - dipaksa mencari cara lain.

Untuk bersama Ana, cara lama itu - dengan menjadikannya Sub - tidak berhasil. Christian harus mulai memikirkan ulang gaya hidupnya selama ini, menemukan pendekatan baru dengan wanita.

Fifty Shades Darker inilah yang kemudian membuat saya bahkan jadi lebih sinting daripada Ana dan jatuh total dalam pesona Christian Grey. Seks masih menjadi menu utama, tentu saja, tapi secara keseluruhan kisahnya berkembang. Dan terutama, pribadi Christian lebih terekspos, tentang masa lalunya yang menjadikannya seperti dia kini.

***SPOILER ALERT***
Puncaknya adalah ketika dalam satu bab, Christian digambarkan sebagai seorang Dominant, dan kemudian mendadak muncul kepribadian Submissive-nya. Saya pikir, ini brilian!
*** SPOILER ENDS HERE ***

Jadi resmilah saya memberi gelar Christian Grey sebagai salah satu karakter buku terseksi yang pernah saya temui \^O^/

Mr. Grey adalah tipe karakter yang sangat mudah mempesona perempuan; kaya, wajah ultra tampan, fisik yang mempesona... ditambah 2 unsur penting; dark and broken. Ah, wanita mana yang tidak tergoda untuk menceburkan diri dalam lautan asmara bersama dewa tampan yang pernah teraniaya dan butuh kasih sayang? Meski terdengar klise, dan tahu ini klise, tapi tak ayal saya tetap bertekuk lutut di hadapan Mr.Fifty.

Fifty Shades Darker diisi dengan emosi-emosi yang menjadi titik balik Christian. Sejalan dengan topeng pada cover-nya, selapis demi selapis kisah hidup dan perasaannya terbuka. Dan harapan baginya untuk menyembuhkan luka dan berubah, muncul dalam bentuk seorang Ana.

Fifty Shades Freed (Buku #3)
Skor Ngidam Buku:

"By popular demand, I'm going to restrain you" ~ Grey

Memasuki Fifty Shades Freed, saya hampir tidak bisa membaca. Saya... tidak sanggup kalau harus menamatkan buku ini, karena... itu artinya kebersamaan dengan Mr.Grey akan segera berakhir! >,<

Kehidupan Christian dan Ana terganggu oleh serangkaian teror yang dilakukan oleh mantan bos Ana yang sakit hati karena dipecat Christian. Lalu ketika Ana, yang lupa suntik KB mendadak dapat dua garis, Christian lagi-lagi harus melompat jauh dari zona nyamannya.

Freed menurut saya yang paling mewakili kata romantis di antara ketiga buku ini. Ending yang super sweet, mega romantic... Demi apa saya mewek karena pisah sama kisah Mr. Grey!

"I need control, Ana. Like I need you. It's the only way I can function. I can't let go of it. I've tried... And yet, with you..." ~ Grey

Lalu, saya pun merasa perlu mengoleksi dan segera pre-order trilogi Fifty Shades boxset dari Bookdepository. Nah!

My Fifty Shades... >_<

Edisi paperback keluaran Arrow Books memuat ekstra sekelumit kisah masa kecil Christian; Natal pertamanya bersama keluarga barunya. Serta pertemuan pertama Christian dengan Ana, melalui point of view Christian. Ekstra ini menarik. Kisah masa kecil Christian bahkan secara mengejutkan ditulis dengan cukup menyentuh.

*

Overall sebagai trilogi erotika, variasi adegan intimnya cukup menyegarkan :D Well, kecuali adegan saat Ana haid itu agak sedikit terlalu.. euw! Adegan dalam konteks BDSM hanya ada di buku pertama, sisanya lebih merupakan role-play karena Ana bukanlah Sub Christian.

The Fifty Shades Trilogy jelas bukan kisah dengan jalinan kata yang indah, tapi secara keseluruhan tidak mengurangi kadar romantismenya. Kalimat-kalimatnya sederhana, tapi tak urung buku ini mampu membuat saya terus membalikkan halaman demi halaman hingga selesai. Dia vulgar sevulgar-vulgarnya, tapi entah kenapa lama-kelamaan membuat saya makin menyukai karakter Christian Grey. Meski erotisme hampir tak pernah absen di sana - sesuai genre-nya - tapi Fifty Shades juga berhasil membangun kisah yang mengikat dan karakter yang memikat. Saya yakin ada banyak tokoh buku adult romance di luar sana, tapi Christian Grey akan selalu jadi salah satu yang paling dibicarakan - oleh saya, setidaknya :p

Membaca ketiga novel ini bagai memberi paradoks dalam penilaian saya; di satu sisi saya tahu mereka takkan melewati rating 3 cangkir kopi, tapi di sisi lain saya amat sangat menikmatinya.

Singkatnya, Trilogi Fifty Shades itu seperti mie instan, minim gizi tapi gurih, sedap saat panas dan disantap malam-malam. *kipas-kipas

Ah sial, inilah saya, yang biasanya gampang bosan dengan romantisme menye-menye, menulis panjang lebar dengan penuh cinta tentang romansa abu-abu Mr. Fifty...

Laters, baby!

***

The Fifty Shades Trilogy Boxset
Penulis: EL. James
Penerbit: Arrow Books
Format: Paperback
ISBN 13: 9780099580577
ISBN 10: 0099580578
terdiri dari:

Fifty Shades of Grey
Fifty Shades Darker
Fifty Shades Freed





Friday, October 12, 2012

Mengurai Destiny dalam Memory Yang Samar


Maroon kecil bertemu Donald dalam wujud arwah. Di suatu tempat, tubuh Donald terbujur di ranjang rumah sakit, koma.

Ketika Donald akhirnya terbangun, ia terobsesi pada Maroon, tetapi tidak tahu di mana gadis itu kini berada. Suatu hari Donald bertemu dengan seorang gadis - yang entah kenapa terasa sudah dikenalnya - di Westminster Abbey, Donald merasakan getaran itu.

Maroon dewasa tidak ingat Donald sang arwah. Tapi ketika bertemu sesosok pria di Westminster Abbey, ia pun merasakan sesuatu.

Mungkin, Donald - yang ketika koma sudah dalam usia menikah - dengan Donald 10 tahun kemudian sudah begitu berbedanya. Sudah beruban dan keriputkah dia?

Atau mungkin, ingatan Maroon usia 10 tahun yang tampaknya cerdas itu sesungguhnya tak terlalu bagus, hingga melupakan Donald yang selalu menemaninya, hingga ia perlu bertanya ini memori atau mimpi? Hmm... benarkah usianya saat itu 10 tahun, dan bukannya 5 tahun? *cuma penasaran* Mungkin sakit Maroon merenggut ingatannya? Mungkin. Atau, keduanya pusing karena terlalu banyak vitamin D? :)

Tidak cukup masalah memori yang entah mimpi atau bukan itu, untuk menambah beban pada kinerja ingatannya, Maroon mengalami kecelakaan dan menderita amnesia. Saat kehilangan ingatan itulah David datang mengisi.

Maka, kisah Amore karya Yunisa KD ini berjalan sebagai kisah cinta segitiga yang mencari destiny-nya dalam memori yang kabur.

Memory and Destiny tipis dan mungil, cukup mudah dikenali dengan cover biru bergambar pria gagah nan ganteng berlatar Sungai Thames dan Big Ben di waktu malam.


Secara umum novel ini, sesuai genre-nya, mendayu dalam cinta. Ide tentang "kaitan dengan masa lalu" menarik untuk tema percintaan. Tapi, novel ini terasa kasar, terburu-buru, kurang terpoles.

Untuk menghadirkan kesan dinamis, penulis mencoba membuat cerita ke dalam point of view yang berbeda-beda; dari orang ketiga dan orang pertama. Sayangnya, kebanyakan sudut pandang orang pertama berasal dari Maroon, ketika sebagian besar POV orang ketiga juga lebih menceritakan tentang Maroon. Karenanya, ketika kata "aku" diganti dengan "dia" atau sebaliknya, tidak terlalu memberi perbedaan. Rasa dinamis dan pandangan yang lebih dalam akan karakter dengan hadirnya POV orang pertama tidak terlalu terasa.

"Pada kenyataannya, tidak pernah hanya ada satu pria" demikian Stephenie Meyer pernah berkata dalam buku The Twilight Saga: The Official Illustrated Guide. Karenanya, wajar ketika David harus dihadirkan untuk menambah dimensi dalam kisah cinta Maroon.

Tetapi, kehadiran pria ke-2 tak perlu disandingkan dengan amnesia. Tak harus hilang ingatan untuk membuat seorang wanita galau karena cinta segitiga. Menjadi ironis ketika penulis memberikan dialog "Kau terdengar seperti sinetron-sinetron di Indonesia" (hal. 177), ketika peristiwa amnesia Maroon sudah sangat sinetron.

Penulis suka menggambarkan karakternya dengan nama-nama terkenal. David itu Ricky Martin KW Jepang. Donald adalah blasteran boneka Ken edisi spesial Rhett Butler + Phantom, ekspor dari Indonesia. Lalu ada Sharon yang kemudian punya cowok dengan spesifikasi David Bekham campur Brad Pitt.

Bisa jadi nama-nama itu adalah idola penulis. Namun ada baiknya untuk menahan diri dan tidak meletakkan semua idola ke dalam satu tulisan (dan berkali-kali), karena alih-alih mempermudah pembaca membayangkan para karakter, justru mempersulit.

Terlalu sering menyebut nama-nama terkenal juga mengaburkan eksistensi karakter cerita ini. Saya jadi lebih ingat Ricky Martin dan Rhett - yang secara alami lebih dominan karena sangat terkenal - ketimbang David dan Donald.

Dari sisi terbitan, agak disayangkan penerbit tidak memasukkan daftar isi, padahal novel ini memberi judul pada setiap bab-nya.

Lepas dari semuanya, ada beberapa bagian yang saya suka di buku ini. Misalnya;

* SMS Olivia - adik Maroon - ke kakaknya, melaporkan bentuk BAB-nya.


* Sudut pandang Sharon, satu-satunya sudut pandang yang memberi kesegaran.
Cara 1,2,3 ini cukup umum dan biasanya lumayan ampuh, di sini tak terkecuali.


Mungkin, dari sudut pandang saya yang tentu saja bukan pengarang ataupun editor ini, penulis cocok jika mengembangkan dan membawa tulisan-tulisan berikutnya ke jalur teen/chiclit atau komedi romantis.

2 cangkir kopi untuk Rhett Butler Indo yang bangkit dari koma.

Ngidam Buku ngasih:


***

Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa KD
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
ISBN: 978-979-22-5658-1
Ukuran: 11 x 18 cm
Tebal: 264 halaman
Terbit: Mei 2010
Cover: Softcover


Friday, September 28, 2012

Mengungkap Pembunuhan Zodiak Tokyo

Kisah dibuka dengan sebuah surat yang dikatakan ditulis oleh seorang pelukis bernama Heikichi Umezawa. Dalam surat tersebut Heikichi menceritakan kegilaan dan hasratnya menciptakan Azoth, wanita sempurna dalam khayalannya. Surat tersebut memaparkan bahwa untuk mewujudkan Azoth, dibutuhkan pengorbanan gadis-gadis dengan zodiak yang berbeda-beda.

Dibutuhkan 6 gadis yang masing-masing akan menyumbangkan bagian tubuh tertentu disesuaikan dengan zodiak mereka, yang nantinya akan disatukan demi kelahiran Azoth. Heikichi tidak jauh-jauh mencari para gadis yang diperlukannya untuk tujuan tersebut, dia akan memakai tubuh anak-anak dan keponakan-keponakannya sendiri.
"Suatu hari saya menyadari bahwa enam perawan dengan lambang zodiak yang berbeda hidup di dekat saya - putri-putri serta keponakan saya! Saya tertawa sendiri pada apa yang disebut "kebetulan" dalam hidup ini..."

Bagian pembuka ini sangat menjanjikan.

Yang kemudian terjadi adalah, tidak hanya ke-6 gadis yang disebutkan namanya dalam surat Heikichi itu benar-benar tewas terbunuh, tetapi juga seorang putri Heikichi lainnya dan Heikichi sendiri juga terbunuh. Semakin membingungkan, karena dari ke-8 pembunuhan itu, justru Heikichi-lah yang terbunuh lebih dulu.

Kasus yang tak terpecahkan hingga puluhan tahun kemudian itu menarik minat Kazumi Ishioka - seorang ilustrator lepas. Ia membawa kasus ini ke sahabatnya Kiyoshi Mitarai - seorang astrolog - untuk memecahkannya bersama. Ditemani Mitarai sebagai Holmes dan Ishioka sebagai Watson-nya itulah pembaca mengikuti perjalanan menuju terungkapnya sang pembunuh zodiak.

Untuk novel misteri, kisah ini tergolong cukup "damai". Membaca The Tokyo Zodiac Murders tidak terlalu memberi efek seram ataupun tegang dikarenakan kasus yang coba dipecahkan adalah kasus lama dan sang pembunuh meski masih ada di luar sana namun tidak "aktif". Beda kan ya, kalau kita membaca kisah di mana sang pembunuh sangat mungkin masih akan membunuh lagi dan terlihat berbahaya, akan ada unsur ketegangan dan "lomba" antara penyidik dan pembunuh. The Tokyo Zodiac Murders tidak memiliki itu.

Sebagai kompensasinya, pembaca akan disuguhi kasus dengan detil yang rumit. Penulis memastikan bahwa semua petunjuk tersedia; data, fakta, peta lokasi ditemukannya mayat, dan lain-lain. Semua dipaparkan agar pembaca bisa ikut memecahkan misteri ini. Dengan kata lain, meski tidak akan memuaskan bagi yang mencari ketegangan, buku ini sangat pas untuk yang merasa berbakat menjadi detektif dan yakin dirinya pandai memecahkan misteri.

Sketsa TKP pembunuhan Heikichi; salah satu dari banyak catatan/gambar yang melengkapi buku ini

Saya mengagumi cara Soji Shimada menghadirkan kerumitan untuk menutupi kesederhanaan kasus. Semua detil itu, tentang Azoth dan zodiak, tanggal-tanggal, posisi garis bujur dan lintang, setiap keping informasinya, diletakkan dengan sengaja untuk menantang pembaca memilah mana informasi yang penting dan mana yang tidak.

Belum lagi saat 2 kali penulis mengintervensi cerita dengan melemparkan tantangan secara terbuka kepada pembaca untuk memecahkan kasus. Mau tidak mau membuat saya terjengkang sambil berkata "Siyal! Baiklaah akan saya pecahkan saja kasus ini biar ramai!"

Dengan semua itu, tak heran jika novel pertama Soji Shimada ini sempat menjadi best seller dan mendapat nominasi Edogawa Rampo Awards.


3 cangkir kopi untuk keberhasilan penulis memaksa saya memecahkan kasus. Ditambah 1/2 cangkir lagi untuk cover yang menarik beserta pembatas buku berdarahnya, dan untuk saya yang berhasil menebak dengan jitu sang pelaku pembunuhan.

Total:


Catatan tambahan: kalau ada misteri yang tak terpecahkan dalam buku ini adalah mengapa ada banyak kesalahan dalam Daftar Isi? Apakah ada maksud tertentu dari angka-angka itu atau memang sebuah kesalahan dari penerbit? Ayo para detektif, kita selidiki kasus ini! XD

Judul: The Tokyo Zodiac Murders
Penulis: Soji Shimada
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-8591-8
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 360 halaman
Terbit : Juni 2012
Cover : Softcover


Saturday, September 22, 2012

Yang Bikin September (Agak) Ceria

September 2012 bagi saya mungkin tak seceria lagu Vina Panduwinata. Agak cenderung banyak air mata, justru. Tapi kedatangan beberapa paket buku sedikit menghibur. Meski efek sampingnya, mereka terlantar saling tindih di lantai saking belum sempat (baca: belum pengen) beberes :p

Hasil belanjaan di Bookdepository:

1. Metamorphosis, Franz Kafka
Saya suka banget Metamorfosis, tapi ngerasa kurang puas sama terjemahan Indonesia, jadi mencoba peruntungan dengan terjemahan bahasa Inggris. Ah, iya deh ngaku, tujuan terselubungnya adalah menambah koleksi Penguin Deluxe >,<

2. The Subtle Knife, Philip Pullman
Buku jadul sih. Ini satu-satunya dari serial His Dark Materials yang belum saya punya.

3. The Hopeless Life of Charlie Summers, Paul Torday
Entah kenapa justru beli ini dan bukannya Salmon Fishing In The Yemen :p

Hadiah dari kuis Twitter Bookdepository:

4. The Orchardist, Amanda Coplin
Waktu ikutan kuis ga tahu hadiahnya apa, ga nyangka hadiahnya novel tebel gini. Waktu 4 paket Bookdepository ini datang bersamaan, si hadiah ini yang paling gede buntelannya :))

Hasil lapar mata di Yes24:

5. Insurgent, Veronica Roth
Hardback, cuma IDR 100k kakaak

Yang ini beli di Mizan.com:

6. Al Quran 1000 Doa
Maunya dibeli pas Ramadhan lalu apalagi karena ada program wakaf, tapi tak apalaah di bulan Syawal :D Kalau yang ini ga dibiarin tergeletak di lantai tentunya.

Ketika akhirnya bisa jalan-jalan ke toko buku
dan menclok di Periplus Plaza Senayan...

7. The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared, Jonas Jonasson
Fiuh... panjang judulnya ngalahin uler naga. Sudah agak lama penasaran sama buku ini, tapi masih menahan diri untuk beli. Eh malah dia menyapa gembira di area new arrival-nya Periplus PS. Ya baiklaah bungkus saja.

Berhubung dari 7 buku itu cuma buku ke-7 yang dibeli dengan budget bulan ini (yang lainnya belanja online yang sebenernya dibeli dengan budget Agustus tapi datangnya September), saya jadi ngerasa kaya ga beli buku bulan ini :)) Ini gawat. Bulan depan bisa-bisa bakal ngerasa boleh jor-joran XD

September belum habis, tapi kemungkinan sih ga akan beli buku baru lagi sampai bulan depan... Semoga... *kekep dompet pake lakban*

Friday, September 21, 2012

Let's Read Plays!

Fanda and I are hosting this event called Let's Read Plays, which is going to run from November 2012 to October 2013. Oh yes, a yearlong with classic plays!


In the event, everyone who is participating will be reading at least one classic play each month. For the complete information about this event, please go HERE.

So why plays, you might wonder, as the first classic club event I dare to co-host? The main reason is; I love reading plays.

The first play I read was the one from an Indonesian writer Idrus. It was Kejahatan Membalas Dendam, taken from his book Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, that hooked me with plays. Unfortunately, not until recently I recalled the fun of reading plays. Thanks to Shakespeare's A Midsummer Night's Dream (or should I say thanks to Puck? :D), I remember how interesting plays are.

If you take a look at my 2012 reading list, you'll find that once I started reading one play I could hardly stop. But I had to restrain myself from reading too many plays before this event starts. I need to save some up in my sleeves, yes? :D

What makes a play interesting for me is its sense of exaggerating things. How eating muffins can be extremely hilarious in The Importance of Being Earnest, or a silly misunderstanding between separated twins can make an engaging story in The Comedy of Errors. Events and dialogues are absurd and exaggerated, but those are the fun parts of plays.

Another thing I like about plays is they are rarely more than 300 pages long. So short that I can finish one a day without being too tired.

I'm so excited with this Let's Read Plays event. Join in! I hope you'll be having fun too!

Ngidam Buku Soft Launch + Giveaway!

Akhirnyaa saya punya blog buku! Oyeeeh! *dansa keliling timbunan*

Menerima curhat para buku yang pengen ikut eksis seperti halnya para beauty/fashion products yang biasa saya review di blog, maka hadirlah blog buku ini.

Proses terlama dalam membuat blog ini ternyata adalah saat... mencari nama! Ckckck :))
Ngidam Buku adalah nama ke-3 yang terlintas di kepala saya setelah nama-nama cantik bernuansa enggres seperti The Book and The Beautiful (hasyih, ge-er banget namanya :p), atau The Purple Glasses (demi mendorong keeksisan kacamata saya). Dan kenapa bukan nama enggres itu yang dipakai justru Ngidam Buku, yaah cuma angin sepoi-sepoi yang tahu...>,<

Moga blog yang masih bayi ini - dengan celoteh ngasalnya - bisa ikut meramaikan diskusi ceria tentang buku.

Posting yang muncul sebelum posting soft launch ini, sudah pernah tayang di blog saya yang lain; Living Daisy. Sengaja dimigrasi, biar semua posting berbau buku pada kumpul arisan di sini. Beberapa resensi jadul ga saya rating, karena memang waktu itu saya belum memberi sistem rating. Resensi berikutnya baru deh bakal mulai saya kasih bintang-bintang, eh, bukan, cangkir kopi!

Dalam rangka loncing blog baru, asik kalo saya kasih giveaway kali yaa :D

Yuk yuuuk, langsung ajaa isi rafflecopter-nya. Akan ada 2 pemenang yang masing-masing bebas pilih buku yang diinginkan seharga maksimal Rp 50.000!

Giveaway berlangsung sampai 21 Oktober 2012, dan hanya untuk yang berdomisili di wilayah Indonesia Raya tercinta.

Semoga beruntung, dan mulai hari ini sering-sering mampir ke sini yaa.

a Rafflecopter giveaway